Sajak Kepada Ansit dan Kecupan yang Memabukkan


Abror Y Prabowo
Sajak Kepada Ansit dan Kecupan yang Memabukkan


Begitulah. Kita hampir saja bimbang
Rembulan tak lagi mengambang di muka kolam
Dan kecipak ikan sirna bersama kenangan
Desember membeku di kepalaku.
“Sepanjang hari hujan tak reda, Sayang,” katamu.
Padahal kita tengah merencanakan pesta paling rahasia nanti malam.
Ya, nanti malam bakal menjadi malam paling rahasia.
Gaun telah engkau siapkan. Dan aku pun telah menyediakan bibir
untuk kau hujani kecupan.


Kapan hujan reda, Ansit? Aku ingin malam nanti terang benderang
agar mata benar terjaga menyaksikanmu berdansa
dengan cahaya bulan bulat yang membuat dadamu berkilat.
Engkau tersenyum. Dan aku mengangguk seraya mereguk anggur
yang kau tuang di gelas hingga mabuk. Engkau pun mabuk.
Hmm, kita telah mabuk cinta yang masyuk.


Begitulah. Kita hampir saja bimbang.
Pesta gagal dan kau tak habis memaki hujan.
Tapi aku tak ingin batal mereguk cintamu, Ansit.
Langit kamar menjadi pualam. Seperti warna syal
yang kau tanggalkan. Dan aku berhenti di sana.
Di lehermu. Bersama lenguhan.
Bersama kecupan.
Berjuta kecupan
memabukkan.


Jakarta, 2013

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates