Saat Senja Berhenti di Tepi Jendela Kamar Anak Perempuanku



Dek, bangun. Hari hampir malam. Tumben sekali kau biarkan teman-temanmu bermain sendiri di sepanjang jalan perumahan. Dengar, suara tawa Mimi, Ciky, Dea, Iveta dan Saski, tawa mereka beberapa kali pecah di udara. Mereka tampak riang sesorean bermain sepeda dan boneka barbie. Memang bukan dolanan jamuran seperti zaman papamu dulu. Tapi papa sangat tau. Saat ini industri sudah sangat maju dan mainan impor telah memenuhi rak mainanmu. Tak apa, sepanjang kau suka. Toh negara kita memang belum mampu bikin mainan boneka bule berambut blonde seperti itu. Kalaupun bisa, tentu hanya golek kayu dan papa yakin kau pasti tak mau menjadikannya sebagai teman tidurmu.

Bangun, Dek. Segera mandi dan bermainlah sebelum sore selesai. Jangan kau biarkan masa kecilmu ini tiba-tiba saja habis. Mumpung senja masih agak lama dan candikala belum tiba, kau masih bisa menyusul teman-temanmu itu bermain. Kau akan sangat menyesal bila pada saatnya nanti kau sadari telah melewatkan secuil masa kecilmu yang jenaka ini. Ayo bangun, sayang. Mamamu sudah menyiapkan segelas susu. Adikmu juga sudah selesai berdandan sedari tadi dan sekarang sedang main mobil-mobilan bersama Rava dan seorang temannya, maaf papa lupa namanya.

Lekaslah beranjak. Papa tau kau lelah seharian sekolah. Papa juga tau bobot isi tas sekolahmu hampir sama dengan berat badanmu. Papa sangat tau itu. Persis seperti papa tau bagaimana rasanya pada saat kau mengeluh capek menggendong tasmu ke sekolah karena saking beratnya waktu itu. Tak apa, nantinya kau akan terbiasa. Yang penting makan dan minum susu. Mumpung papamu juga masih mampu sekedar membelikanmu sekotak susu. Dan ingat, jangan kau tiru cara papamu sekolah dulu. Karena waktu itu papa hanya bawa buku yang dilipat lalu diselipkan di saku. Tapi begitulah tren zaman dulu. Zaman Lupus belum jenggotan seperti sekarang. Jelas beda bukan?

Ayo, buka matamu dan lihatlah ke jendela. Hari sudah sore dan kau belum bangun juga. Mandi dan bermainlah. Bermainlah. Nikmati masa indahmu. Papa akan antar kamu menjalani masa kecilmu yang lucu. Masa di mana kamu akan banyak belajar bagaimana cara menyanyikan tembang-tembang dolanan. Cerialah dan senangkan hatimu karena papa tidak akan pernah merampasnya darimu. Papa akan membiarkan kebahagiaanmu tumbuh dengan alami. Seperti alam menumbuhkan bunga-bunga di halaman silih berganti.

Mari, papa gendong. Papa akan tungguin kamu mandi dan kenakan bajumu. Percayalah papa akan menemanimu selalu. Tak akan papa biarkan siapapun merampas kebahagiaanmu. Karena sejujurnya, papa juga sangat takut melewatkan detik-detik berharga di masa kecilmu. Papa takut sekali jika suatu ketika nanti, tiba-tiba saja tanpa papa sadari kamu telah tumbuh menjadi dewasa. Menjadi gadis yang perlahan menjauh dan hilang dari pelukan papa entah dibawa siapa.

Papa ingin selamanya bisa menemanimu bermain di kamar, di halaman, di sepanjang jalan perumahan, di manapun tanpa dering telepon, tanpa kartu nama, tanpa penawaran dan negosiasi yang kadang sangat menjengkelkan, tanpa suara mesin mobil yang mesti papa kendarai dengan buru-buru karena sibuk mengejar target dan waktu. Tidak. Papa tidak mau melewatkan masa indahmu. Papa akan selalu menemanimu bermain bersama adik dan teman-temanmu. Atau setidaknya papa akan setia melihatmu bermain dari kejauhan. Karena sungguh papa tak ingin kehilangan lesung pipimu yang senantiasa tercipta setiap kali kau tertawa seraya berkata : “Ai lef yu, Papa.”

Papa akan selalu membawamu serta. Bersama adik dan mamamu. Dalam mimpi dan doa-doa yang senantiasa papa panjatkan, agar ruang tengah di rumah kita selalu diselimuti kegembiraan yang senyatanya.

: Maafkan papa, sayang.  (Papa sayang sekali sama kakak. Jangan jauh-jauh dari papa ya Dek.) ***17-01-2011

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates