Di Tepian Senja Sebelum Maghrib Tiba

Di Tepian Senja Sebelum Maghrib Tiba

: Istri

Sepotong senja telah menyelesaikan kisahnya.
Lalu angin mengantar cerita lain tentang kebisuan
panjang. Semak-semak berdzikir dan sejumput kabut
diam-diam lindap di tepian matamu.
Menjadi bayangan yang tak jua hilang
seperti kenangan.

Di teras rumah yang kita bangun
dengan berjuta kecupan, engkau terdiam.
“Aku tak lagi mengenalimu, Pa. Kemana pria
beraroma aspal yang dulu selalu mengajakku pergi
ke toko buku,” katamu. Aku diam dan tenggelam
bersama kabut yang kian menebal di tepian matamu.
Di luar jendela maghrib hampir sempurna.
Dan langit perlahan merias sendiri wajahnya
seperti para peraga sandiwara.
Merah. Hijau. Jingga.

Sejenak waktu bagai sedang mencipta sajak.
Sejuta kata berhamburan dalam benak
yang tak urung meledak. Suaramu menipis
tak serupa tangis. “Andai kau tahu, Pa.
Betapa kangen hati pada pria pengendara angin
yang hidup di lembar terakhir buku catatanku.
Aroma debu pada ikal rambutnya
masih begitu terasa,” bisikmu.

Seketika aku terlempar. Senja terbakar.
Udara terasa begitu purba.
Kabut melenyapkanmu
dalam ingatan
yang kau sebut
masa silam.
Dan aku
tak bisa
lagi
kembali

bunyi beep mengantar pesan singkatmu.
: Teruskan langkahmu, Pa. Dan pulanglah sebelum senja
menggenapkan gelapnya. Anak-anak menunggu di meja makan.

Jakarta, 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates