Kepada Kekasih



Abror Y Prabowo
Kepada Kekasih

Tidakkah kau tahu? Sejak kata itu lepas dari bibirmu
bersama purnama yang separuh cahayanya
ingin kau simpan untuk mengenang sebuah pertemuan.
Aku selalu saja ingin mengulang.

: Kecup aku, sayang.

Yogyakarta, 2014

Pada Pertemuan dengan Anindya



Abror Y Prabowo
Pada Pertemuan dengan Anindya

Ruang tamu membeku. Kata-kata menggigil
di lidah kita. Tak ada puisi yang hangat kecuali
kesunyian. Dan matamu melemparkan lamunan
yang memukul-mukul kaca jendela.

: Entahlah, tiba-tiba aku ingin mengusap air matamu.

Jakarta, 2014

Menuntut Keadilan

Sempat ngintip buku catatan teman sebangku saat seminar. Mungkin karena dia lagi bosan. Pembicaranya memang membosankan. Masih untung tidak ditinggal keluar ruangan. Hanya ditinggal corat-coret di lembar catatan seminar. Atau bisa jadi ia sedang termotivasi lalu mengutuk dirinya sendiri dalam sebuah coretan. Coretan itu bisa jadi sebuah statement. Walaupun aku hanya melirik, tapi kulihat isinya cukup menarik : 

"Percuma saja kamu menuntut sebuah keadilan dari orang lain bila dengan keluargamu saja kamu jauh lebih tidak adil karena membiarkannya terlalu lama menanti harapan yang belum juga kau berikan. Sampai kapan?" Hmmm, sebuah catatan yang cerdas dan menggugah. *** 06-03-2012

Ada Rembulan di Wajah Istri dan Anak-anakku



Mah, seandainya kita mendadak menjadi tua sedang anak-anak kita, Khansa dan Adzar tumbuh dewasa dengan sendirinya, apa yang mesti kita lakukan? Kadang-kadang aku berpikir untuk tetap mempertahankan keceriaan anak-anak saat usianya masih seperti sekarang. Kadang-kadang aku menolak menjadikan anak-anak tumbuh menjadi laki-laki dan perempuan dewasa seperti kita. Sebab menurutku menjadi pria dan wanita dewasa itu menjengkelkan. Banyak pura-pura dan palsu. Seperti tas dan sepatu. "Kualitas KW," katamu.

Aku lebih suka melihatnya tetap kanak-kanak. Karena kanak-kanak itu jujur dan ceria. Dan satu lagi, bila mereka dewasa itu berarti adalah saat di mana kita akan berada pada sebuah wilayah yang sering kita sebut dengan kesendirian. Karena ketika mereka dewasa berarti mereka akan segera pergi meninggalkan kita berdua saja. 

Ah, rasanya aku ingin tetap mempertahankan agar waktu tidak merubah usia anak-anakku. Setiap kali aku melihat foto-foto saat mereka masih kecil dulu, aku merasa mereka seperti meninggalkanku pelan-pelan. Mereka seperti diam-diam nyelonong keluar rumah tanpa pamitan. Lalu kau teriak-teriak dan sewot minta ampun mencari di taman bermain. Mencari di rumah teman-teman bermainnya, Rahil, Femme, Arfa dan entah siapa lagi karena ku tak bisa mengingat nama mereka satu per satu. Atau siapa tau mereka sedang bermain sepeda-sepedaan di halaman depan dekat pintu gerbang perumahan. Atau mungkin mereka sedang asyik menangkap kupu-kupu di dekat rumah Pak Miko. Di sana kupu-kupunya sangat banyak. Saking banyaknya Adzar lalu bilang, "Kupu-kupunya sedang ada acara."

Dan bila mereka tak kau temui di semua tempat itu, lantas engkaupun pulang dengan wajah dilipat-lipat sembari memarah-marahiku karena tidak mengawasi anak-anak. 

"Biarkan saja. Mereka sudah besar. Kita sudah tidak bisa mengekangnya terus-menerus," kataku mendadak bijaksana. Padahal sungguh, aku jauh lebih suka anak-anak itu tetap menjadi kanak-kanak yang lucu. Aku berontak setiap kali sadar ternyata waktu telah menggerus usiaku. Dan perlahan anak-anakku semakin tumbuh seperti bunga bermekaran di taman depan teras rumah.

Mah, kemarin aku baru saja meniup lilin yang kau tancapkan di atas kue tart yang kau pesan. Black forest yang lezat. Tapi sayangnya aku tak begitu doyan kue-kue seperti itu. Kata Adzar, "Papah itu ndeso". Entahlah, menurutku kue-kue itu terasa begitu aneh di lidah. Aku lebih suka martabak, lotek atau gado-gado. Tapi menurutmu, semakin aneh jika lilin ulang tahun ditancapkan di atas martabak apalagi lotek atau gado-gado. Ya, sudahlah. Demi sebuah kelaziman. Toh, makan kue tart atau makan lotek hasilnya sama saja, yaitu waktu telah memberi tambahan satu angka lagi pada usiaku. Dengan bertambahnya usiaku, berarti bertambah pula usia anak-anakku.

"Haddeeww, aku belum mau ditinggal anak-anak, Mah". Aku merasa belum lengkap memberinya kesempatan bermain di taman. Aku merasa belum sempat mengajaknya liburan ke beberapa tempat yang mereka inginkan. Aku merasa belum menggenapi beberapa permintaannya. Lalu bolehkah aku meminta waktu sejenak berhenti agar aku bisa menyelesaikan semua urusanku terlebih dahulu?

Ah, semakin aku minta waktu berhenti, rasanya detak jarum jam menjadi bertambah cepat saja larinya. Semakin aku ingin menyelesaikan segala urusan, rasanya semakin banyak hal berdatangan silih berganti. Telepon berdering makin sering. SMS, email, BBM semakin gemuk berisi pesan-pesan yang harus dijawab. Kartu nama semakin menumpuk di atas meja dan apakah aku harus menemui satu per satu pemilik nama-nama itu? Belum lagi kertas-kertas tagihan yang menuntut pembayaran. Duh, Mah. Tolong ambilkan suplemenku. Mendadak badanku terasa seperti habis digebuki. Kepalaku migrain senut-senut. Kakiku kesemutan.

Bailklah, Mah. Di sepertiga malam nanti mari kita berdoa. Aku akan aminkan semua doamu dan kumohon kau aminkan pula doa-doaku. Ups, percayalah aku tidak akan berdoa yang macam-macam. Aku tidak akan berdoa untuk sesuatu yang tidak kau sukai. Aku hanya berdoa untuk kebaikan kita semua. Aku hanya akan berdoa agar kita diberikan keselamatan dan kebahagian serta kemudahan dalam segala urusan. Semoga Yang Maha Mengurus senantiasa membimbing kita dalam kemudahan.

Baiklah, Mah. Besok kau kemasi baju anak-anak. Aku tidak perlu kau bawakan baju banyak-banyak. Jangan baju yang biasa aku pakai ke kantor. Baju yang biasa-biasa saja. Celana pendek dan kaos oblong saja. Tak perlu sepatu dan kaos kaki. Aku mau pakai sandal. Oh ya, topi hitam kesayanganku jangan lupa. Dan satu lagi, Mah. Tolong bunuh handphone di atas meja itu. Biar dia mati sejenak. Setidaknya dua atau tiga hari ke depan. Kasihan juga handphone-handphone itu. Setiap hari menjadi perantara pesan dan suara. Tentu dia juga lelah dan perlu istirahat. Yap, biarkan dia sejenak tidur di dalam laci. Besok pagi kita pergi. Terserah, aku tak tau mau kemana kita perginya. Atau biar anak-anak saja yang tentukan. Sekalian biar mereka belajar mengambil keputusan. Biarkan. Aku akan ikuti semua yang mereka inginkan.

"Pah, aku ingin ke bulan." ***07-01-2013

Saat Senja Berhenti di Tepi Jendela Kamar Anak Perempuanku



Dek, bangun. Hari hampir malam. Tumben sekali kau biarkan teman-temanmu bermain sendiri di sepanjang jalan perumahan. Dengar, suara tawa Mimi, Ciky, Dea, Iveta dan Saski, tawa mereka beberapa kali pecah di udara. Mereka tampak riang sesorean bermain sepeda dan boneka barbie. Memang bukan dolanan jamuran seperti zaman papamu dulu. Tapi papa sangat tau. Saat ini industri sudah sangat maju dan mainan impor telah memenuhi rak mainanmu. Tak apa, sepanjang kau suka. Toh negara kita memang belum mampu bikin mainan boneka bule berambut blonde seperti itu. Kalaupun bisa, tentu hanya golek kayu dan papa yakin kau pasti tak mau menjadikannya sebagai teman tidurmu.

Bangun, Dek. Segera mandi dan bermainlah sebelum sore selesai. Jangan kau biarkan masa kecilmu ini tiba-tiba saja habis. Mumpung senja masih agak lama dan candikala belum tiba, kau masih bisa menyusul teman-temanmu itu bermain. Kau akan sangat menyesal bila pada saatnya nanti kau sadari telah melewatkan secuil masa kecilmu yang jenaka ini. Ayo bangun, sayang. Mamamu sudah menyiapkan segelas susu. Adikmu juga sudah selesai berdandan sedari tadi dan sekarang sedang main mobil-mobilan bersama Rava dan seorang temannya, maaf papa lupa namanya.

Lekaslah beranjak. Papa tau kau lelah seharian sekolah. Papa juga tau bobot isi tas sekolahmu hampir sama dengan berat badanmu. Papa sangat tau itu. Persis seperti papa tau bagaimana rasanya pada saat kau mengeluh capek menggendong tasmu ke sekolah karena saking beratnya waktu itu. Tak apa, nantinya kau akan terbiasa. Yang penting makan dan minum susu. Mumpung papamu juga masih mampu sekedar membelikanmu sekotak susu. Dan ingat, jangan kau tiru cara papamu sekolah dulu. Karena waktu itu papa hanya bawa buku yang dilipat lalu diselipkan di saku. Tapi begitulah tren zaman dulu. Zaman Lupus belum jenggotan seperti sekarang. Jelas beda bukan?

Ayo, buka matamu dan lihatlah ke jendela. Hari sudah sore dan kau belum bangun juga. Mandi dan bermainlah. Bermainlah. Nikmati masa indahmu. Papa akan antar kamu menjalani masa kecilmu yang lucu. Masa di mana kamu akan banyak belajar bagaimana cara menyanyikan tembang-tembang dolanan. Cerialah dan senangkan hatimu karena papa tidak akan pernah merampasnya darimu. Papa akan membiarkan kebahagiaanmu tumbuh dengan alami. Seperti alam menumbuhkan bunga-bunga di halaman silih berganti.

Mari, papa gendong. Papa akan tungguin kamu mandi dan kenakan bajumu. Percayalah papa akan menemanimu selalu. Tak akan papa biarkan siapapun merampas kebahagiaanmu. Karena sejujurnya, papa juga sangat takut melewatkan detik-detik berharga di masa kecilmu. Papa takut sekali jika suatu ketika nanti, tiba-tiba saja tanpa papa sadari kamu telah tumbuh menjadi dewasa. Menjadi gadis yang perlahan menjauh dan hilang dari pelukan papa entah dibawa siapa.

Papa ingin selamanya bisa menemanimu bermain di kamar, di halaman, di sepanjang jalan perumahan, di manapun tanpa dering telepon, tanpa kartu nama, tanpa penawaran dan negosiasi yang kadang sangat menjengkelkan, tanpa suara mesin mobil yang mesti papa kendarai dengan buru-buru karena sibuk mengejar target dan waktu. Tidak. Papa tidak mau melewatkan masa indahmu. Papa akan selalu menemanimu bermain bersama adik dan teman-temanmu. Atau setidaknya papa akan setia melihatmu bermain dari kejauhan. Karena sungguh papa tak ingin kehilangan lesung pipimu yang senantiasa tercipta setiap kali kau tertawa seraya berkata : “Ai lef yu, Papa.”

Papa akan selalu membawamu serta. Bersama adik dan mamamu. Dalam mimpi dan doa-doa yang senantiasa papa panjatkan, agar ruang tengah di rumah kita selalu diselimuti kegembiraan yang senyatanya.

: Maafkan papa, sayang.  (Papa sayang sekali sama kakak. Jangan jauh-jauh dari papa ya Dek.) ***17-01-2011

Anakku yang Laki-laki



Anakku yang laki-laki, seandainya kamu tahu, berjalan itu ternyata tidak selalu harus lurus. Persis pada saat kamu belajar berjalan dulu. Bahkan bila kau mengerti, sampai saat ini pun berjalan selalu tidak pernah bisa tepat lurus. Kata mamamu, kalau lurus terus bisa nabrak.

Tapi tahukah kamu wahai anakku yang laki-laki, sebuah rencana memang bisa digaris begitu lurusnya. Persis seperti saat nanti kamu sudah dewasa dan bepergian sendiri. Kamu akan bertanya arah yang tak kau ketahui pada orang lain. Arah ke Tugu di mana, Pak? misalnya. Orang itu lalu akan menggariskan keterangannya begini. "Dari jalan ini Masnya ikuti saja lurus ke timur. Jangan belok-belok. Pokoknya lurussssss terus. Lurus terus!"

Nah, selurus apakah itu? Padahal kalau kamu lapar terpaksa kamu harus belok dulu setidaknya untuk cari warung makan. Atau kalau kamu kebelet pipis, terpaksa kamu harus belok cari tempat pipis kalau tidak ingin celanamu basah kena ompol. Ya, improvisasi. Itu intinya! Ternyata berjalan atau menjalankan sebuah rencana selalu membutuhkan improvisasi. Persis seperti berjalan bukan?

Mengertikah kau sekarang apa yang kumaksudkan wahai anakku yang laki-laki? Mulailah kamu sedari sekarang merencanakan apa yang akan kamu lakukan besok. Dan lakukan apa yang sudah kamu rencanakan. Dan ingat, improvisasi harus kamu lakukan agar kamu lebih terbiasa dengan omongan orang. Agar kamu bisa sampai di tujuan dengan selamat. Agar kamu bisa lebih mengerti betapa indahnya sebuah perjalanan. Agar kamu bisa lebih menghargai betapa kerasnya usaha yang telah kamu lakukan.

Dan tahukah kamu wahai anakku yang laki-laki? Saat ini pun aku tengah merencanakan sesuatu. Dan aku juga tengah berimprovisasi dengan rencanaku itu. Meskipun aku yakin kamu tidak akan mengerti improviasi apa yang akan aku lakukan. Karena tidak mungkin bocah 2.5 tahun sepertimu memahami apa arti improviasi. Meskipun aku sebagai bocah 31 tahun juga sering tidak memahami langkahku sendiri. Yang kutahu adalah apa yang kukerjakan hanya untukmu.

Baiklah, anakku yang laki-laki. Aku yakin kita sudah sama-sama mengerti. Seperti kata guruku saat aku sekolah dulu. "Selesai tidak selesai kumpulkan!". Dan sekarangpun, mengerti tidak mengerti semuanya harus kita lakukan.

Baiklah, aku akan menggendongmu. Karena sekarang aku sedang membawamu ke arah impian. Di sana! Cukup jauh. Tapi aku yakin kita akan tiba. Tidurlah sambil belajar dalam mimpimu sendiri. Sungguh, ketika kau bangun nanti aku ingin mendapatimu terbang dengan sayapmu sendiri. Dan aku akan merangkai mimpi baru lagi. Untukmu wahai anakku yang laki-laki. Untuk kita, karena kita laki-laki. **15-02-2010

 
Blogger Templates