Anakku yang laki-laki, seandainya kamu tahu, berjalan itu ternyata tidak
selalu harus lurus. Persis pada saat kamu belajar berjalan dulu. Bahkan bila
kau mengerti, sampai saat ini pun berjalan selalu tidak pernah bisa tepat
lurus. Kata mamamu, kalau lurus terus bisa nabrak.
Tapi tahukah kamu wahai anakku yang laki-laki, sebuah rencana memang bisa digaris
begitu lurusnya. Persis seperti saat nanti kamu sudah dewasa dan bepergian
sendiri. Kamu akan bertanya arah yang tak kau ketahui pada orang lain. Arah ke
Tugu di mana, Pak? misalnya. Orang itu lalu akan menggariskan keterangannya begini.
"Dari jalan ini Masnya ikuti saja lurus ke timur. Jangan belok-belok.
Pokoknya lurussssss terus. Lurus terus!"
Nah, selurus apakah itu? Padahal kalau kamu lapar terpaksa kamu harus belok
dulu setidaknya untuk cari warung makan. Atau kalau kamu kebelet pipis,
terpaksa kamu harus belok cari tempat pipis kalau tidak ingin celanamu basah
kena ompol. Ya, improvisasi. Itu intinya! Ternyata berjalan atau menjalankan
sebuah rencana selalu membutuhkan improvisasi. Persis seperti berjalan bukan?
Mengertikah kau sekarang apa yang kumaksudkan wahai anakku yang laki-laki?
Mulailah kamu sedari sekarang merencanakan apa yang akan kamu lakukan besok.
Dan lakukan apa yang sudah kamu rencanakan. Dan ingat, improvisasi harus kamu
lakukan agar kamu lebih terbiasa dengan omongan orang. Agar kamu bisa sampai di
tujuan dengan selamat. Agar kamu bisa lebih mengerti betapa indahnya sebuah
perjalanan. Agar kamu bisa lebih menghargai betapa kerasnya usaha yang telah
kamu lakukan.
Dan tahukah kamu wahai anakku yang laki-laki? Saat ini pun aku tengah
merencanakan sesuatu. Dan aku juga tengah berimprovisasi dengan rencanaku itu.
Meskipun aku yakin kamu tidak akan mengerti improviasi apa yang akan aku
lakukan. Karena tidak mungkin bocah 2.5 tahun sepertimu memahami apa arti improviasi.
Meskipun aku sebagai bocah 31 tahun juga sering tidak memahami langkahku
sendiri. Yang kutahu adalah apa yang kukerjakan hanya untukmu.
Baiklah, anakku yang laki-laki. Aku yakin kita sudah sama-sama mengerti.
Seperti kata guruku saat aku sekolah dulu. "Selesai tidak selesai
kumpulkan!". Dan sekarangpun, mengerti tidak mengerti semuanya harus kita
lakukan.
Baiklah, aku akan menggendongmu. Karena sekarang aku sedang membawamu ke
arah impian. Di sana! Cukup jauh. Tapi aku yakin kita akan tiba. Tidurlah
sambil belajar dalam mimpimu sendiri. Sungguh, ketika kau bangun nanti aku
ingin mendapatimu terbang dengan sayapmu sendiri. Dan aku akan merangkai mimpi
baru lagi. Untukmu wahai anakku yang laki-laki. Untuk kita, karena kita
laki-laki. **15-02-2010

0 komentar:
Posting Komentar