Ekstase Mimpi Peradaban



Abror Y Prabowo
Ekstase Mimpi Peradaban

Bintang yang kau taburkan dalam tidurku
semalaman gagal membangun mimpi indah.
Justru bayang-bayang ngeri tentang mimpi itu sendiri
membawa tidurku melaju pada sunyi. Pada kepalsuan
yang membuatku mengutuk janji para pemimpi.


Ya, begitulah. Mimpi telah menjadi etalase pajangan.
Sepanjang mall dan pertokoan mimpi menjadi barang mahal.
Walau di pasar loak masih saja ada pedagang mimpi
menjual mimpi murahan dengan harga diskon besar-besaran
dan para perempuan berbangga mengenakan mimpi di sekujur
tubuhnya. Mimpi di jari manis tanda cinta
dari calon pengantinnya, katanya. Mimpi di rambut
seperti yang ditebar tv dan koran harian.
Mimpi tentang sepatu dan baju kebesaran.
Ah, itu baju memang kebesaran untuk ukuran
perempuan dengan otak sekecil kau, sayang.


Dan karena mimpi yang telah gagal kau bangkitkan
berpasang mata mengancamku. Lalu satu dari mereka
menyiramkan hujan dari sebotol vodka.
Kau memaksaku mereguk. “Agar mimpimu tak buruk,” katamu.
Aku mabuk. Kau kian sibuk.
Aku mengutuk. Kau datang mengetuk.
Menyodorkan sesobek mimpi yang berkali habis kumaki. 


Ah, sudahlah. Aku lelah mengulang mimpi-mimpi serupa.
Sama seperti saat aku lelah menyaksikanmu bermimpi
tentang pujian untuk secuil hal yang sering kau sebut pengorbanan.
Lebih baik kita segera meminum hujan
sembari menghibur hati yang kelu ditipu mimpi.
Mari awali dengan menuang gerimis sebelum hujan penuh benar.
Sebelum datang badai. Lalu perlahan kita telanjang
mabuk dalam ekstase. Karena kita tak bisa lagi
menerka mimpi atau kenyataan yang sesungguhnya.
Bukankah kita telah sama-sama bermimpi?
Tentang hujan. Tentang vodka. Tentang dunia yang menggigil.
Tentang kata-kata menggetarkan serupa rayuan.
Tentang luka dan peradaban.


: Ups, peradaban katamu?

Yogyakarta, 2014

0 komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates