Mah, seandainya kita mendadak menjadi tua sedang anak-anak kita, Khansa dan
Adzar tumbuh dewasa dengan sendirinya, apa yang mesti kita lakukan?
Kadang-kadang aku berpikir untuk tetap mempertahankan keceriaan anak-anak saat
usianya masih seperti sekarang. Kadang-kadang aku menolak menjadikan anak-anak
tumbuh menjadi laki-laki dan perempuan dewasa seperti kita. Sebab menurutku
menjadi pria dan wanita dewasa itu menjengkelkan. Banyak pura-pura dan palsu.
Seperti tas dan sepatu. "Kualitas KW," katamu.
Aku lebih suka melihatnya tetap kanak-kanak. Karena kanak-kanak itu jujur
dan ceria. Dan satu lagi, bila mereka dewasa itu berarti adalah saat di mana
kita akan berada pada sebuah wilayah yang sering kita sebut dengan kesendirian.
Karena ketika mereka dewasa berarti mereka akan segera pergi meninggalkan kita
berdua saja.

Ah, rasanya aku ingin tetap mempertahankan agar waktu tidak merubah usia
anak-anakku. Setiap kali aku melihat foto-foto saat mereka masih kecil dulu,
aku merasa mereka seperti meninggalkanku pelan-pelan. Mereka seperti diam-diam
nyelonong keluar rumah tanpa pamitan. Lalu kau teriak-teriak dan sewot minta
ampun mencari di taman bermain. Mencari di rumah teman-teman bermainnya, Rahil,
Femme, Arfa dan entah siapa lagi karena ku tak bisa mengingat nama mereka satu
per satu. Atau siapa tau mereka sedang bermain sepeda-sepedaan di halaman depan
dekat pintu gerbang perumahan. Atau mungkin mereka sedang asyik menangkap
kupu-kupu di dekat rumah Pak Miko. Di sana kupu-kupunya sangat banyak. Saking
banyaknya Adzar lalu bilang, "Kupu-kupunya sedang ada acara."
Dan bila mereka tak kau temui di semua tempat itu, lantas engkaupun pulang
dengan wajah dilipat-lipat sembari memarah-marahiku karena tidak mengawasi
anak-anak.
"Biarkan saja. Mereka sudah besar. Kita sudah tidak bisa mengekangnya
terus-menerus," kataku mendadak bijaksana. Padahal sungguh, aku jauh lebih
suka anak-anak itu tetap menjadi kanak-kanak yang lucu. Aku berontak setiap
kali sadar ternyata waktu telah menggerus usiaku. Dan perlahan anak-anakku semakin
tumbuh seperti bunga bermekaran di taman depan teras rumah.
Mah, kemarin aku baru saja meniup lilin yang kau tancapkan di atas kue tart
yang kau pesan. Black forest yang lezat. Tapi sayangnya aku tak begitu doyan
kue-kue seperti itu. Kata Adzar, "Papah itu ndeso". Entahlah,
menurutku kue-kue itu terasa begitu aneh di lidah. Aku lebih suka martabak,
lotek atau gado-gado. Tapi menurutmu, semakin aneh jika lilin ulang tahun
ditancapkan di atas martabak apalagi lotek atau gado-gado. Ya, sudahlah.
Demi sebuah kelaziman. Toh, makan kue tart atau makan lotek hasilnya sama saja,
yaitu waktu telah memberi tambahan satu angka lagi pada usiaku. Dengan
bertambahnya usiaku, berarti bertambah pula usia anak-anakku.
"Haddeeww, aku belum mau ditinggal anak-anak, Mah". Aku merasa
belum lengkap memberinya kesempatan bermain di taman. Aku merasa belum sempat
mengajaknya liburan ke beberapa tempat yang mereka inginkan. Aku merasa belum
menggenapi beberapa permintaannya. Lalu bolehkah aku meminta waktu sejenak
berhenti agar aku bisa menyelesaikan semua urusanku terlebih dahulu?
Ah, semakin aku minta waktu berhenti, rasanya detak jarum jam menjadi
bertambah cepat saja larinya. Semakin aku ingin menyelesaikan segala urusan, rasanya
semakin banyak hal berdatangan silih berganti. Telepon berdering makin sering.
SMS, email, BBM semakin gemuk berisi pesan-pesan yang harus dijawab. Kartu
nama semakin menumpuk di atas meja dan apakah aku harus menemui satu per satu
pemilik nama-nama itu? Belum lagi kertas-kertas tagihan yang menuntut
pembayaran. Duh, Mah. Tolong ambilkan suplemenku. Mendadak badanku terasa
seperti habis digebuki. Kepalaku migrain senut-senut. Kakiku kesemutan.
Bailklah, Mah. Di sepertiga malam nanti mari kita berdoa. Aku akan aminkan
semua doamu dan kumohon kau aminkan pula doa-doaku. Ups, percayalah aku tidak
akan berdoa yang macam-macam. Aku tidak akan berdoa untuk sesuatu yang tidak
kau sukai. Aku hanya berdoa untuk kebaikan kita semua. Aku hanya akan berdoa agar
kita diberikan keselamatan dan kebahagian serta kemudahan dalam segala urusan.
Semoga Yang Maha Mengurus senantiasa membimbing kita dalam kemudahan.
Baiklah, Mah. Besok kau kemasi baju anak-anak. Aku tidak perlu kau bawakan
baju banyak-banyak. Jangan baju yang biasa aku pakai ke kantor. Baju yang
biasa-biasa saja. Celana pendek dan kaos oblong saja. Tak perlu sepatu dan kaos
kaki. Aku mau pakai sandal. Oh ya, topi hitam kesayanganku jangan lupa. Dan
satu lagi, Mah. Tolong bunuh handphone di atas meja itu. Biar dia mati sejenak.
Setidaknya dua atau tiga hari ke depan. Kasihan juga handphone-handphone itu.
Setiap hari menjadi perantara pesan dan suara. Tentu dia juga lelah dan perlu
istirahat. Yap, biarkan dia sejenak tidur di dalam laci. Besok pagi kita pergi.
Terserah, aku tak tau mau kemana kita perginya. Atau biar anak-anak saja yang
tentukan. Sekalian biar mereka belajar mengambil keputusan. Biarkan. Aku akan
ikuti semua yang mereka inginkan.
"Pah, aku ingin ke bulan." ***07-01-2013